Menjadi Anak-anak Unggul Melalui Hidup Berjamaah

June 17th, 2010

Potensi kehidupan berjamaah untuk menumbuhkembangkan keunggulan anak-anak kita sejak dini dapat kita ambil dari anjuran Rasulullah Muhammad Shallallaahu’Alaihi Wasallam untuk berteman dengan orang-orang shalih. Duduk dan berdekatan dengan orang-orang shalih akan menularkan kebaikan. Bersanding dengan penjual minyak wangi, akan terimbas wanginya. Sebaliknya, duduk dan berdekatan dengan orang-orang yang tidak baik, maka bisa tertular keburukan. Bersanding dengan tukang las, bisa-bisa terbakar, atau terkena pekatnya asap.

Anak-anak kita terlahir dengan sebuah dorongan sosial. Alfred Adler (Dreikurs, 1989), pendiri Psikologi Individual, menegaskan bahwa setiap anak terlahir dengan sebuah minat sosial—ketertarikan pada orang lain—dan memiliki keunikan. Anak-anak terlahir dengan sebuah kebutuhan untuk terikat pada komunitas manusia, untuk bergerak maju, untuk berhasil dalam menyelesaikan tujuan hidup mereka, dan untuk merasa aman di dunia.

Anak-anak belajar hal-hal penting dalam hidup dari orang lain. Sebagai orangtua, kita adalah guru mereka yang paling penting. Kita adalah lukisan kehidupan jamaah pertama dan paling berpengaruh bagi mereka. Kita sedang dan akan selalu mengajari hal-hal penting dalam hidup melalui contoh yang kita tunjukkan sendiri. Anak-anak menyaksikan secara seksama, menunjukkan ketertarikan bagaimana perilaku kita berhubungan dengan mereka, dengan teman-teman kita, dengan saudara-saudara kita, dan dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Anak-anak kita seringkali akan meniru begitu saja apa yang kita katakan dan kerjakan.

Bayi-bayi mulai menanggapi orang-orang penting dalam hidupnya sejak jam-jam pertama dalam kehidupannya. Mereka dengan cepat belajar untuk menarik perhatian orang-orang dewasa dengan senyuman, ocehan, dan gerakan. Meskipun mereka menunjukkan ketertarikan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, mereka belum menyadari akan perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang tersebut. Menurut pandangan mereka, setiap orang dan segala sesuatu yang ada bertugas untuk memuaskan setiap keinginan mereka. Seiring waktu, mereka akan menemukan bahwa perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain mungkin bertentangan dengan atau berbeda dari yang mereka miliki.

Anak-anak batita menginginkan apa pun yang mereka lihat, tetapi mereka harus belajar untuk menghargai hak milik orang lain. Kadang-kadang mereka mengalami kesulitan untuk memahami tindakan-tindakan anak-anak yang lain dan mempertimbangkan perasaan-perasaan orang lain. Karena kenikmatan yang mereka rasakan bersama-sama dengan orang lain dan kebutuhan mereka untuk diterima dan dicintai, anak-anak belajar pentingnya kehidupan berjamaah. Kehidupan berjamaah yang biasa diikuti orangtua, misalnya, akan mempermudah proses anak-anak batita yang mulai belajar berbagi dengan orang lain, untuk menunggu giliran orang lain, dan untuk mengungkapkan kemarahan dalam cara-cara yang tepat.

Anak-anak prasekolah dapat bekerja bersama-sama dengan orang lain dan menjadi lebih selektif terhadap teman-teman mereka. Mereka secara bertahap belajar untuk bermain dengan anak-anak lain dan berteman dengan anak-anak tersebut. Mereka belajar untuk memahami konsep berbagi dan menunggu giliran dan mulai menggunakan kata-kata daripada kekuatan fisik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan melindungi kepemilikan mereka. Mereka belajar untuk “membaca perasaan-perasan orang lain”, berpura-pura menjadi orang lain dan menjadi lebih perhatian terhadap orang lain. Mereka menjadi lebih mampu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dan berhubungan baik dengan orang lain.

Kita dapat membantu anak-anak dengan memperluas lingkaran pertemanan mereka. Mengajak anak-anak untuk menghadiri kegiatan jamaah yang biasa diikuti orangtua akan memberi anak-anak prasekolah pengalaman-pengalaman sukses berhubungan dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang beragam dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mereka seharusnya bertindak dan mengapa demikian. Kehidupan berjamaah akan menyediakan kesempatan bagi anak-anak kita untuk belajar bagaimana sukses berhubungan dengan orang lain—harapannya tentu bukan hanya kesuksesan di dunia tetapi juga insyaallah kesuksesan di akhirat.

Sebagai contoh, kehidupan berjamaah menyediakan pengalaman-pengalaman penting yang sangat diperlukan untuk menjadi anggota yang efektif dari sebuah kelompok—keluarga, tetangga, sekolah, kerja, atau komunitas organisasi: memperlihatkan ketertarikan kepada orang lain, memberi dan menerima, menyatakan kebutuhan-kebutuhan dan hak-hak dalam cara-cara yang tepat, menunjukkan perhatian dan simpati, dan berkomunikasi efektif.

Lebih dari itu, melalui setiap perjumpaan dalam kehidupan berjamaah, anak-anak kita memperluas pemahaman dan keyakinan mereka tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Dengan hidup bersama jama’ah, mudah-mudahan kita dan anak-anak kita terhindar dari kerugian sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al Ashr. Kehidupan berjamaah memungkinan kita pertama meningkatkan dan memelihara keimanan, kedua beramal shalih meningkat dan terpelihara, ketiga saling menasihati dalam kebenaran, dan keempat saling menasihati dalam kesabaran.

Meminjam ungkapan dari Hugh Prather dalam Catatan tentang Cinta dan Keberanian, kehidupan berjamaah memproses anak-anak kita menjadi manusia unggul. ”We need Jama’ah, not in order to stay alive, but to be fully human”.

Sumber

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Comment

Required

Required, hidden

It sounds like SK2 has recently been updated on this blog. But not fully configured. You MUST visit Spam Karma's admin page at least once before letting it filter your comments (chaos may ensue otherwise).

*

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2010
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts